Jumat, 28 Mei 2010

PENGARUH KEBIASAAN BELAJAR SISWA TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATA PELAJARAN PKn SISWA KELAS IV SDN 40 KOTA BIMA TAHUN PELAJARAN 2008/2009

PENGARUH KEBIASAAN BELAJAR SISWA TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATA PELAJARAN PKn SISWA KELAS IV
SDN 40 KOTA BIMA TAHUN PELAJARAN 2008/2009


I. Latar Belakang Masalah
Ada beberapa permasalahan di Indonesia yang sampai saat ini belum terselesaikan secara tuntas. antara lain: masalah pemerataan pendidikan, mutu pendidikan, efisiensi pendidikan dan masalah relevansi pendidikan. Memang kita perlu akui bahwa secara umum manusia Indonesia kurang dapat menggunakan kemampuan dan bakat yang dimilikinya. Hal ini kemungkinan dikarenakan kurang sadarnya masyarakat akan pentingnya ilmu pengetahuan dan betapa pentingnya mengoptimalkan sumberdaya manusia untuk meningkatkan kesejahteraan kehidupan. Berbicara mengenai mutu pendidikan, sangat erat hubungannya dengan bagaimana proses belajar mengajar berlangsung. Dan bagaimana output pendidikan tersebut bisa berkiprah.
Dalam undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang sistim pendidikan nasional,bahwa pendidikan diartikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan negara. (Sugiono, 2006. 42).

Ahli lain menyatakan pendidikan merupakan hasil atau prestasi yang dicapai oleh perkembangan manusia dan usaha lembaga-lembaga tersebut dalam mencapai tujuan pendidikan yang ditetapkan dan dicita-citakan baik secara efektif maupun secara efisien.(Hasbullah, 2005: 4).
Pendidikan nasional bertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa berakhlak mulia, sehat, berilmu, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis, serta bertanggung jawab dalam ramgka mencerdaskan kehidupan bangsa. Dalam meningkatkan mutu pendidikan, guru merupakan salah satu komponen yang mempumyai peranan sangat penting. Guru merupakan faktor dominan dalam proses pembelajaran di sekolah, namun kenyataan yang terjadi dalam kurun waktu akhir-akhir ini memperlihatkan kecendrungan kekurangan guru baik di lihat dari aspek kualitas maupun kuantitas.
Pendidikan merupakan hasil atau pretasi yang dicapai oleh perkembangan manusia dan usaha-usaha lembaga tersebut, dalam mencapai tujuan pendidikan secara efektif maupun secara efisien. Oleh sebab itu tugas pendidikan sekolah yang utama sekarang adalah menanamkan motivasi yang kuat dari anak untuk belajar terus menerus sepanjang hidupnya, memberikan ketrampilan pada peserta didik untuk secara cepat dan mengembangkan daya adaptasi yang besar dalam diri peserta didik. Semua itu perlu dikondisikan agar peserta didik termotivasi, karena bagaimanapun juga motivasi merupakan faktor yang sangat menentukan dan berfungsi menimbulkan, mendasari dan mengarahkan perbuatan belajar.
Secara kodrati manusia telah di anugerahi oleh Tuhan Yang Maha Esa untuk memiliki kecendrungan baik dalam bakat, minat, kemampuan dan sebagainya. Namun semua perangkat tersabut hanya akan menjadi kecendrungan belaka manakala tidak didukung oleh adanya wahana yang menjebatani dalam memotivasi peserta didik. Oleh karena itu, guru merupakan elemen penting dalam sistem pendidikan.
Menyadari arti dan nilai strategisnya dunia pendidikan ini, maka tidak ada satu bangsapun di dunia ini yang dapat melepaskan diri dari pendidikan bahkan merupakan suatu keharusan untuk menuju pada era yang berdimensi kemajuan.
Keberadaan motivasi pada setiap manusia dimanapun ia berada akan selalu berubah-ubah menurut situasi dan kondisi, sedangkan dalam dunia pendidikan khususnya dalam masalah pembelajaran, motivasi tetap memiliki arti penting dan memiliki arti strategis untuk mencapai tujuan pembelajaran baik yang dilakukan guru dalam proses pengajaran maupun yang dilakukan oleh siswa dalam kegiatan belajarnya. Dengan kata lain motivasi ini dapat dilakukan guru untuk lebih mengefektifkan dalam proses pengajarannya dan dapat pula dimiliki oleh siswa untuk mempercepat proses pencapaian hasil belajar yang dilakukan di luar maupun di dalam kelas.
Dalam jalur pendidikan formal sangat diperlukan keseriusan dalam belajar untuk memperoleh ilmu yang maksimal. Tetapi yang sering dilupakan adalah seberapa penting kebutuhan belajar dalam upaya meningkatkan mutu hasil pendidikan. Mayoritas para siswa lebih mengandalkan pada tingkat kecerdasannya atau yang disebut dengan IQ dalam mencapai prestasi/hasil belajarnya.
Ada beberapa fenomena yang menarik bagi penulis untuk di teliti. Di dalam suatu komunitas pendidikan, penulis melihat ada siswa yang aktif dalam berpikir dan mempunyai kecerdasan di atas rata-rata tetapi sayangnya hal itu tidak dia imbangi dengan kegiatan belajar yang memadai dan terlihat menyepelekan belajar. Akhirnya prestasi akademiknya dikalahkan oleh siswa lainnya yang nota bene mempunyai tingkat kecerdasan sedang tetapi mempunyai kebiasaan belajar yang baik.
Yang kedua, penulis mempunyai teman yang pada waktu di jenjang sekolah lanjutan tingkat pertama tidak begitu terlihat prestasinya bahkan terkesan berada di ranking bawah. Tetapi satu tahun kemudian dia menjadi siswa yang nilai evaluasi akhirnya paling tinggi. Ketika penulis menanyakan tentang penyebab perubahan itu dia menjawab bahwa dia bisa meningkatkan prestasinya karena dia merubah pola belajarnya.
Dari peristiwa itu penulis berpikir betapa sangat berpengaruhnya faktor kebiasaan belajar terhadap prestasi seseorang. Waupun hal itu belum diuji kebenarannya namun secara teoritis kebiasaan belajar memegang peranan penting dalam hubungannya dengan hasil belajar.
Dari peristiwa dan teori tersebut diatas, penulis sangat tertarik untuk melakukan penelitian mengenai pengaruh kebiasaan belajar terhadap hasil belajar yang nantinya diharapkan penelitian ini dapat membuktikan kebenaran dari sebuah teori dan fenomena yang ada. Adapun redaksi judul penelitian ini adalah “Pengaruh kebiasaan belajar siswa terhadap prestasi belajar dalam mata pelajaran PKn siswa kelas IV SD Negeri 40 Kota Bima tahun pelajaran 2008/2009”.

II. Rumusan Masalah
Berangkat dari latar belakang masalah yang tercermin di atas, rumusan masalah yang diajukan dalam kegiatan penelitian ini “Apakah ada Pengaruh kebiasaan belajar siswa terhadap prestasi belajar dalam mata pelajaran PKn siswa kelas IV SD Negeri 40 Kota Bima tahun pelajaran 2008/2009”.

III. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Tujuan Penelitian
Sesuai dengan konteks permasalahan yang diajukan dalam penelitian ini, maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah “Ingin mengetahui bagaimana Pengaruh kebiasaan belajar siswa terhadap prestasi belajar dalam mata pelajaran PKn siswa kelas IV SD Negeri 40 Kota Bima tahun pelajaran 2008/2009”.

Manfaat Penelitian
3.2.1 Secara Teoritis
Mengharapkan hasil dari penelitian ini dapat membantu lembaga pendidikan untuk lebih maju dan berkreatifitas serta dapat memberikan sumbangan bagi civitas akademika perguruan tinggi lebih efektif dalam memimpin mahasiswa dan mahasiswinya untuk mencapai prestasi belajar yang maksimal.
3.2.2 Secara Praktis
3.2.2.1 Bagi Sekolah
a. Sebagai masukan kepada kepala sekolah untuk bahan pengembangan program pembelajaran pada tahap berikutnya
b. Hasil penelitian ini dapat memberi informasi ilmiah kepada instansi yang berwenang tentang kurikulum yang berlaku terutama dalam proses pembelajaran.
3.2.2.2 Bagi Guru
a. Sebagai masukan guru dalam menindak lanjuti tentang pengaruh kebiasaan belajar dalam meningkatkan prestasi belajar kepada siswa
b. Hasil penelitian ini dapat membantu tugas guru kelas di sekolah untuk mengidentifikasikan lebih lanjut tentang cara-cara belajar siswa dalam pemanfaatan prinsip-prinsip belajar

3.2.2.3 Bagi Siswa
a. Melalui penelitian ini diharapkan akan terungkap sisi positif dalam kebiasaan belajar siswa sehingga dapat dimaksimalkan bagi upaya peningkatan prestasi belajar siswa
b. Melalui penelitian ini diharapkan akan memberikan motivasi kepada siswa dalam meningkatkan kebiasaan belajar siswa dalam meraih prestasi belajar siswa.

IV. Asumsi
Asumsi atau anggapan dasar ini merupakan suatu gambaran sangkaan, perkiraan, satu pendapat atau kesimpulan sementara, atau suatu teori sementara yang belum dibuktikan.
Menurut pendapat Winarno Surakhman sebagaimana dikutip oleh Suharsimi Arikunto dalam buku Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, bahwa asumsi atau anggapan dasar adalah sebuah titik tolak pemikran yang kebenarannya diterima oleh Penyelidik (Suharsimi, 2006 : 65).
Dengan demikian, keputusan tentang masalah merupakan suatu asumsi bagi seorang peneliti sebelum dikukuhkan dengan hasil penelitian. Dilain pihak asumsi juga diartikan sebagai “penyataan yang diterima tanpa harus dibuktikan kebenarannya oleh peneliti (Noeng Muhadjir, 1981 : 13). Berdasarkan kedua pendapat di atas dapat dikatakan bahwa asumsi adalah suatu anggapan dasar tentang kebenaran suatu fakta yang tidak perlu dibuktikan lagi.
Sebagai asumsi, maka setiap pernyataan dalam memandang masalah penelitian dapat dikatakan sebagai permulaan untuk melihat hakekat masalah yang bersangkutan oleh peneliti itu sendiri tanpa adanya konsekuensi untuk diuji kebenarannya oleh peneliti. Namun demikian harus dapat diterima sebagai suatu kebenaran dalam pandangan/keyakinan peneliti itu sendiri.
Berangkat dari pengertian asumsi di atas, maka asumsi yang dikemukakan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah :
1. kebiasaan siswa dalam mempelajari suatu mata pelajaran tertentu dipengruhi oleh minat dan motivasi.
2. Siswa kelas IV SD Negeri 40 Kota Bima prestasinya berbeda-beda

V. Tinjauan Pustaka
5.1 Belajar
5.1.1 Pengertian belajar
Belajar menurut Slameto (2003:2) secara psikologis adalah”Suatu proses perubahan yaitu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya atau belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan sesorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”.
Skinner dalam Dimyati (2002:9) menyatakan “belajar adalah suatu perilaku pada saat orang belajar maka responnya menjadi lebih baik”. Sehingga dengan belajar maka orang akan mengalami perubahan tingkah laku.
Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan suatu proses dimana didalamnya terjadi suatu interaksi antara seseorang (siswa) dengan lingkungannya yang mengakibatkan adanya perubahan tingkah laku yang akan memberikan suatu pengalaman baik bersifat kognitif (pengetahuan), afektif (sikap), dan psikomotorik (keterampilan).
5.1.2 Aspek-Aspek Dalam Belajar
Aspek-aspek yang diteliti dalam cara belajar menurut Thabarany (1994: 43) adalah:
(1) Persiapan belajar Siswa
Pada hakekatnya setiap pekerjaan yang akan dilakukan harus dipersiapkan terlebih dahulu.Dengan persiapan sebaik-baiknya maka kegiatan/pekerjaan akan dapat dilaksanakan dengan baik sehingga akan memperoleh keberhasilan. Demikian pula halnya dengan belajar, beberapa persiapan yang perlu dilakukan dalam belajar menurut Thabrany (1994:49) adalah:
a. Persiapan mental
Persiapan mental yang dimaksud adalah bahwa tekad untuk belajar benar-benar sudah siap. Menurut Gie (1987:58) “persiapan mental merupakan upaya menumbuhkan sikap mental yang diperlukan dalam belajar”. Lebih lanjut dijelaskan bahwa persiapan mental yang perlu dilakukan adalah:
1. Memahami arti/ tujuan belajar
2. Kepercayaan pada diri sendiri
3. Keuletan
4. Minat terhadap pelajaran
b. Persiapan sarana
Thabrany (1994: 48) mengemukakan”sarana yang dibutuhkan dalam belajar yaitu ruang belajar dan perlengkapan belajar”
1. Ruang Belajar
Menurut Thabrany (1994: 48) “ Ruang belajar mempunyai peranan yang cukup besar dalam menentukan hasil belajar seseorang”. Persyaratan yang diperlukan untuk ruang belajar adalah: bebas dari gangguan, sirkulasi dan suhu udara yang baik, penerangan yang memadai.



2. Perlengkapan belajar
Thabrany (1994:53) menjelaskan “ perlengkapan belajar yang perlu disiapkan dalam belajar adalah:
a. Perabot belajar seperti meja, kursi, dan rak buku
b. Buku pelajaran
c. Buku catatan
d. Alat-alat tulis
(2) Cara mengikuti pelajaran
Langkah-langkah dalam mengikuti pelajaran yang perlu dilakukan adalah melakukan persiapan-persiapan dengan mempelajari materi-materi yang akan dibahas dan meninjau kembali materi sebelumnya, bersikap afektif selama kegiatan belajar sampai KBM berakhir. Menurut Hamalik (1983:50) langkah-langkah/cara mengikuti pelajaran yang baik adalah:
a. Persiapan, yang harus dilakukan adalah mempelajari bahan pelajaran yang sebelumnya diajarkan, mempelajari bahan yang akan dibahas dan merumuskan pertanyaan tentang materi/ bahan pelajaran yang belum dipahami.
b. Aktivitas selama mengikuti pelajaran, hal yang perlu diperhatikan selama mengikuti pelajaran antara lain kehadiran, konsentrasi, catatan pelajaran, dan partisipasi terhadap belajar.
c. Memantapkan hasil belajar, Suryabrata (1989:37) mengemukakan bahwa “untuk memantapkan hasil belajar maka harus membaca kembali catatan pelajaran”
(3) Aktivitas belajar mandiri
Bentuk aktivitas belajar mandiri yang dilakukan siswa dapat berupa kegiatan-kegiatan belajar yang dilakukan sendiri ataupun kegitan-kegiatan belajar yang dilakukan sendiri ataupun kegiatan belajar yang dilakukan secara berkelompok.
1. Aktivitas belajar sendiri
Yang dapat dilakukan berupa, membaca bahan-bahan pelajaran dari berbagai sumber informasi selain buku-buku pelajaran, membuat ringkasan bahn-bahan pelajaran yang telah dipelajari, menghafalkan bahan-bahan pelajaran, mengerjakan latihan soal dan lain sebagainya.
2. Aktivitas belajar kelompok
Adapun yang dapat dilakukan dalam belajar antara lain, mendiskusiakn bahan-bahan pelajaran yang belum dimengerti, membahas penyelesaian soal-soal yang sulit dan saling bertanya jawab untuk memperdalam penguasaan bahan-bahan pelajaran (Thabrany 1994:58)
(4) Pola belajar Siswa
Pola belajar adalah cara siswa melaksanakan suatu kegiatan belajar yaitu bagaimana siswa mengatur dan melaksanakan kegiatan-kegiatan belajarnya Pola belajar siswa menunjukkan apakah siswa membuat perencanaan belajar, bagaimana mereka melaksanakan dan menilai kegiatan belajarnya (Suryabrata 1989:40)

5.2 Kebiasaan belajar Siswa
5.2.1 Pengertian Kebiasaan belajar Siswa
Menurut Sumadi bahwa kebiasaan bisa diartikan sebagai hal-hal yang dilakukan berulang-ulang, sehingga dalam melakukan itu tanpa memerlukan pemikiran. Misalnya orang yang biasa belajar di waktu subuh, akan melakukannya setiap hari tanpa begitu memerlukan pemikiran dan konsentrasi yang penuh (dalam Muhyono, 2001: 12).
Selanjutnta menurut Kholifah (2003: 11), bahwa kebiasaan belajar adalah segenap perilaku siswa yang ditunjukan secara ajeg dari waktu-kewaktu dengan cara yang sama.
Berdasarkan pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa kebiasaan belajar adalah suatu perilaku yang ditunjukan oleh siswa yang dilakukan secara berulang-ulang dari waktu kewaktu secara otomatis.
Kebiasaan belajar bukan merupakan bakat alamiah yang berasal dari faktor bawaan, tetapi merupakan perilaku yang dipelajari dengan secara sengaja dan sadar selama beberapa waktu. Karena diulang sepanjang waktu, berbagai perilaku itu begitu terbiasakan sehingga akhirnya terlaksana secara spontan tanpa memerlukan pikiran sadar sebagai tanggapan otomatis terhadap sesuatu proses belajar.
Tentu saja kebiasaan belajar adakalanya merupakan kebiasaan belajar yang baik dan kebiasaan belajar yang buruk kebiasaan belajar yang baik akan membantu peserta didik untuk menguasi pelajarannya, menguasai materi dan meraih sukses dalam sekolah. Sedangkan kebiasaan belajar yang buruk akan mempersulit peserta didik untuk memahami pelajarannya dan menghambat kemajuan studi serta menghambat kesuksesan studi di sekolah.

5.2.2 Kegunaan Kebiasaan Belajar
Menurut Sumadi cara membentuk kebiasaan belajar antara lain sebagai berikut:
a. Kebiasaan dapat menghemat waktu dalam mengerjakan sesuatu atau memakai pikiran. Hal ini karena suatu kebiasaan mempunyai sifat spontan yang tidak memerlukan banyak kesengajaan.
b. Meningkatkan efisiensi manusia. Dengan kebiasaan belajar yang baik maka sebagian energi yang diperlukan untuk belajar dapat dipergunakan untuk aktivitas yang lain.
c. Membuat seseorang lebih cermat. Contohnya seorang pelajar yang terbiasa membuka kamus akan semakin cermat dalam mencari kata-kata karena sudah terbiasa.
d. Hasil belajar akan lebih maksimal. Dengan kecrmatan yang tinggi dan usaha belajar yang teratur dan ringan akan meningkatkan hasil belajar.
e. Menjadikan seseorang menjadi lebih konsisten dalam kegiatannya sehari-hari (dalam Muhyono, 2001: 12).


5.2.3 Cara Membentuk Kebiasaan Belajar

Kebiasaan belajar yang baik dapat dilakukan oleh peserta didik, dengan mempedomani asas-asas sebagai berikut:
a. Melakukan semua kegiatan belajar di tempat yang sama, dalam kamar sendiri kalau mungkin.
b. Tidak melakukan usaha belajar pada kamar yang dipergunakan untuk rekreasi.
c. Jangan bersaing dengan pengganggu-pengganggu perhatian.
d. Lakukan belajar terhadap suatu mata pelajaran atau bahan ajaran pada waktu yang sama setiap hari.
e. Jangan belajar dalam posisi yang terlalu santai.
f. Berbuat sesuatu ketika melakukan belajar.
g. Pergunakan waktu yang cukup untuk belajar.
h. Segeralah mulai belajar setelah duduk menghadapi meja belajar.
i. Jangan terlampau banyak aktivitas di luar pelajaran.
j. Buat contoh-contoh guna memeriksa pemahaman bahan ajaran.
k. Carilah kegunaan praktis dari pengetahuan yang diperoleh, terlebih pengetahuan yang baru
l. Pada awal setiap mata pelajaran, usahakan memperoleh gambaran menyeluruh mengenai isinya.
m. Curahkan perhatian penuh sehingga ada keinginan untuk mencapai sesuatu, dan selalu ingin belajar.
n. Latihlah kebiasaan untuk belajar tuntas.
Perhatikan secara teliti kata-kata baru atau kata-kata asing.
Kholifah (2003: 11)

Yang perlu diingat, untuk membentuk kebiasaan belajar yang baik tergantung pada minat dan bakat peserta didik. Minat adalah variabel penting yang berpengaruh terhadap tercapainya prestasi belajar atau cita-cita yang diharapkan. Belajar dengan minat akan lebih baik daripada belajar tanpa minat.
Di samping minat, ada kemampuan kognitif yang lain yaitu bakat. Boleh mengatakan bahwa bakat sama dengan intelegensi. Intelegensi itu penting untuk penguasaan ilmu pengetahuan. Upaya yang dapat dilakukan untuk menggali bakat siswa adalah dengan memberi rangsangan. Penggalian ini dapat dilakukan melalui metode, strategi, atau pendekatan sesuai dengan mata pelajaran masing-masing, pendekatan ini merupakan sarana siswa aktif dan kreatif sehingga memiliki kemandirian, inisiatif, dan kerja sama antarsiswa.

5.3 Prestasi Belajar Siswa
5.3.1 Pengertian Prestasi Belajar
Prestasi belajar yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah hasil belajar yang telah dicapai oleh siswa setelah mengikuti proses belajar mengajar di sekolah. Oleh karena itu, di bawah ini diuraikan tentang pengertian prestasi belajar. Prestasi belajar merupakan sebuah kalimat yang terdiri dari dua kata yakni, Prestasi dan Belajar. Antara kata prestasi dan belajar mempunyai arti yang berbeda. Oleh karena itu, sebelum pengertian prestasi belajar dibicarakan ada baiknya pembahasan ini diarahkan pada masalah pertama untuk memahami lebih mendalam tentang pengertian prestasi belajar itu sendiri.
Prestasi adalah hasil yang telah dicapai dari yang telah dilakukan, dibuat, dikerjakan, dijadikan dan sebagainya) oleh usaha. (Depdiknas, 2002 : 392).
Kemudian Nana Sudjana berpendapat dengan memberikan batasan bahwa hasil adalah penilaian pendidikan tentang perkembangan dan kemajuan murid yang berkenaan dengan penguasaan bahan pelajaran yang disajikan kepada mereka serta nilai-nilai yang terdapat dalam kurikulum (Nana Sudjana, 1989 : 22).
Yang dimaksudkan dengan belajar adalah suatu aktivitas yang dilakukan secara sadar untuk mendapatkan sejumlah kesan dari bahan yang telah dipelajari, hasil dari aktivitas belajar terjadilah perubahan dalam diri individu. Dengan demikian, belajar dikatakan berhasil apabila telah terjadi perubahan dalam diri individu, sebaliknya bila tidak terjadi perubahan dalam diri individu, maka belajar dikatakan tidak berhasil.
Dalam pengertian belajar sebagaimana yang dikemukan di atas, dapat dipahami bahwa hakekat dari aktivitas belajar adalah suatu perubahan yang akan mempengaruhi pola pikir dalam berbuat dan bertindak. Perubahan itu sebagai hasil pengalaman individu dalam belajar. Hasil belajar sebagai perwujudan dari keaktifan belajar, maka di samping adanya faktor-faktor yang mempengaruhi juga harus ditunjang dengan cara-cara belajar yang memuaskan.



5.3.2 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
Dalam rangka mengoptimalkan hasil belajar perlu diperhatikan faktor-faktor yang dapat mempengaruhinya, secara umum ada dua faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajar, yaitu faktor internal (faktor dari dalam diri pribadi), dan faktor eksternal (faktor yang timbul dari luar diri pribadi).
Kedua faktor tersebut secara langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi hasil belajar siswa dalam belajar, hal ini sejalan dengan pendapat yang menjelaskan bahwa : “Hasil belajar yang dicapai siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu : Faktor dalam diri siswa dan faktor yang datang dari luar diri siswa atau faktor lingkungannya” (Nana Sudjana, 1989 : 39).
Untuk memperoleh gambaran yang jelas tentang kedua faktor itu, maka penulis akan uraikan di bawah ini.
1. Faktor Internal (faktor dari dalam diri siswa)
Faktor yang berasal dari dalam diri siswa sendiri meliputi 2 aspek yaitu aspek fisiologis (yang bersifat jasmaniah) dan aspek psikologis (yang bersifat rohaniah).
a. Aspek Fisiologis.
Kondisi umum jasmani dan tonus (tegangan otot) yang menandai tingkat kebugaran organ-organ tubuh dan sendi-sendinya, dapat mempengaruhi semangat dan intensitas siswa dalam mengikuti pelajaran. Kondisi organ tubuh yang lemah, apabila jika disertai pusing-pusing kepala misalnya, dapat menurunkan kualitas ranah cipta (kognitif) sehingga materi pelajaran yang dipelajarinya pun kurang atau tidak berbekas
b. Aspek psikologis
Banyak faktor yang termasuk aspek psikologis yang dapat mempengaruhi kuantitas dan kualitas perolehan pembelajaran siswa. Namun diantara faktor-faktor rohaniah siswa yang pada umumnya dipandang lebih asensial itu adalah sebagai berikut :1. Tingkat kecerdasan/intelegensi. 2. Bakat siswa. 3. Minat siswa. 4. Motivasi siswa.
2. Faktor ekstrnal (faktor dari luar diri siswa)
Faktor eksternal yang berpengaruh terhadap prestasi belajar mengajar dapat dikelompokkan menjadi tiga faktor, yaitu faktor keluarga, faktor sekolah, dan faktor masyarakat (lingkungan).
a. Faktor keluarga.
Faktor keluarga sebagai salah satu faktor ekstrnal yang mempengaruhi prestasi seseorang dibagi menjadi beberapa aspek yaitu
1. Faktor orang tua.
Yang termasuk faktor orang tua adalah cara orang tua mendidik anak, sering cekcok dan lain-lain. Untuk itu peranan orang tua dalam mendidik anak dengan penuh kearifan dan bijak sana sangat dituntut. Hal ini dimaksudkan agar orang tua betul-betul dapat berperan sebagai suri tauladan bagi anak-anaknya.
2. Faktor suasana keluarga
Hal ini sangat mempengaruhi prestasi belajar seseorang sebab suasana rumah yang senantiasa tegang, sering cekcok dan lain sebagainya akan dapat mengganggu cara belajar seseorang. Dalam kondisi seperti ini, orang tua dituntut untuk menjaga suasana rumah tangga agar tetap nyaman, tentram dan damai. Hal ini penting dilakukan orang tua (keluarga di rumah), demi aman dan nyamannya siswa belajar, dan pada akhirnya dapat mempengaruhi prestasi belajar anak.
3. Keadaan ekonomi keluarga.
Kalau dalam ekonomi keluarga kurang, berarti perlengkapan keluarga kurang terpenuhi dan tempat belajarpun tidak memadai atau bahkan tidak ada akibatnya anak tidak dapat belajar dengan baik, sebaliknya, anak yang ekonomi keluarganya mapan, bahkan kaya biasanya anak tersebut manja, sehingga ia belajar bersenang-senang dan kurang memusatkan perhatian pada belajar, sehingga prestasi belajarnyapun akan rendah.
b. Faktor Sekolah
Faktor sekolah yang mempengaruhi proses belajar siswa yang mencakup metode mengajar, kurikulum, relasi guru dan siswa, relasi siswa dengan siswa, alat pelajaran, metode pengajaran. (Saiful Bahri Djamarah, 1994 : 64).
c. Faktor masyarakat
Masyarakat merupakan faktor ekstrnal yang juga berpengaruh terhadap belajar siswa, pengaruh tersebut terjadi karena keberadaan siswa itu sendiri merupakan bagian integral dari masyarakat.
Kaitannya dengan faktor masyarakat, maka ada 4 (empat) faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa, seperti dikemukakan dalam pendapat berikut:
1. Mas media seperti televisi, radio, surat kabar, majalah, bioskop, komik dan lain-lain. Mas media yang baik akan berpengaruh terhadap belajar siswa, sebaliknya mas media yang jelek akan berpengaruh jelek pula terhadap hasil belejar siswa.
2. Teman bergaul, hal ini pun tidak kalah pentingnya dalam memberikan pengaruh terhadap prestasi belajar siswa.
3. Aktivitas dalam masyarakat, seorang siswa yang terlalu banyak berkecimpung dalam kegiatan sosial kemasyarakatan, sehingga tugas pokoknya belajar terabaikan akan berdampak kurang baik terhadap prestasi belajar siswa yang bersangkutan.
4. Corak kehidupan tetangga, maksudnya adalah jika siswa bertetangga dengan orang yang tidak baik, seperti penjudi, pemabuk, pencuri, maka minimal akan berpengaruh terhadap ketenangan jiwa siswa tersebut, sehingga akhirnya akan berpengaruh pula terhadap prestasi belajar siswa itu sendiri. (Saiful Bahri Djamarah, 1994 : 70)

Mencermati pernyataan tersebut di atas, ternyata lingkungan tempat tinggal siswa memberikan andil yang besar dalam membentuk kepribadian siswa yang dalam hal ini adalah masyarakat sekitarnya. Karena itu bagi seorang siswa hendaknya dapat memberikan motivasi sebagai tempat saling isi mengisi pengetahuan dengan jalan diskusi.

5.4 Mata Pelajaran PKn
5.4.1 Definisi Mata Pelajaran Pendidikan Kewarnegaraan (PKn)
Mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan adalah merupakan mata pelajaran yang menfokuskan pada pembentukan diri yang beragam dari segi agama, sosiokultural, bahasa, usia, dan suku bangsa untuk menjadi warga Negara Indonesia yang cerdas, terampil dan berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945.
Pendidikan Kewarganegaraan ialah mempunyai fungsi sebagai wahana untuk membntuk warga Negara yang cerdas, terampil dan berkaraktr setia kepada bangsa dan Negara Indonesia dengan merefleksikan dirinya dalam kebiasaan berpikir dan bertindak sesuai dengan amanat Pancasila dan UUD 1945 (Arnie Fajar, 2006 : 142).
Berdasarkan fungsi tersebut, mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan harus dinamis dan harus mampu menarik perhatian peserta didik dalam mengembangkan pemahaman, baik materi maupun keterampilan intelektual dan kurikuler serta intra kurikuler.

5.4.2 Tujuan Pendidikan Kewaganegaraan (PKn)
Berdasarkan keputusan DIRJEN DIKTI No. 43/DIKTI/Kep/2006, tujuan Pedidikan Kewrganegaraan adalah dirumuskan dalam visi dan misi sebagai berikut.
Visi Pendidikan Kewarganegaraan (PKn); merupakan sumber nilai dan pedoman dalam pengembangan dan penyelenggeraan program studi guna mengantarkan siswa memantapkan kepribadiannya sebagai manusia seutuhnya. Hal ini didasarkan pada suatu realitas yang dihadapi, bahwa siswa adalah generasi bangsa yang harus memiliki visi intelektual, religius, berkeadaban, berkemanusiaan dan cinta tanah air dan bangsanya.
Misi Pendidikan Kewarganegaraan (PKn); merupakan untuk membantu siswa memantapkan kepribandiannya, agar secara konsisten mampu mewujudkan nilai-nilai dasar Pancasila, rasa kebangsaan dan cinta tanah air dalam menguasai, menerapkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni dengan dasar tanggung jawab dan bermoral (Kaelan, 2007 : 2).



5.4.3 Karakteristik Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn)
Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), memiliki ciri khas yang berbeda dengan mata pelajaran yang lain, yaitu pengetahuan, keterampilan, dan karakteristik kewarga negaraan. Ketiga hal tersebut merupakan bekal bagi siswa untuk meningkatkan mencerdaskan multidimensional yang memadai untuk menjadi warga negara yang baik.
Isi pengetahuan (body of knawledge) dari mata pelajaran ini diorganisasikan secara interdisipliner dari berbagai ilmu-ilmu sosial seperti ilmu hukum, politik, tatanegara, psikologi, dan berbagai bahan kajian lainnya yang berasal dari nilai-nilai kemasyarakatan, nilai-nilai penghubungan antara warga Negara dengan warga Negara, warga Negara dengan pemerintah negara, serta warga negara dengan warga negara dunia (Arnie fajar, 2004 : 143).


VI. Hipotesis
Hipotesisi adalah suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian, sampai terburkti melalui data yang terkumpul (Suharsimi Arikunto, 1992: 62). Karena merupakan jawaban sementara sifatnya, maka perlu diuji kebenarannya. Selanjutnya menurut pendapat Sugiyono (2006 : 96), mengatakan bahwa hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian.
Berdasarkan uraian kedua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa hipotesis adalah suatu anggapan sementara yang kebenarannya perlu dibuktikan lagi dalam suatu penelitian. Oleh karena itu hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini apakah ada Pengaruh kebiasaan belajar siswa terhadap prestasi belajar dalam mata pelajaran PKn siswa kelas IV SD Negeri 40 Kota Bima tahun pelajaran 2008/2009.


VII. Metode Penelitian
7.1 Metode Yang Digunakan
Sebagai suatu kegiatan yang bertujuan, maka terlebih dahulu harus ditentukan, metode penelitian yang akan ditentukan dalam menyelesaikan masalah ini, dimana metode penelitian yang akan ditetapkan untuk mengkaji masalah ini adalah metode Deksriptif Kuantitatif yaitu penelitian yang menggambarkan tentang sesuatu variabel secara apa adanya mulai dari pengumpulan data, penafsiran dan penampilan hasilnya menggunakan angka (Suharsimi Arikunto, 2006 : 239).
Penelitian kuantitatif digunakan karena peneliti ingin mendapatkan data berupa angka, yaitu nilai atau hasil belajar (nilai raport) siswa pada mata pelajaran PKn. Penellitian kuantitatif digunakan untuk melakukan analisis data antara variabel bebas (X) dengan variabel terikat (Y). karena data penelitian ini berupa data kuantitatif (berupa angka) aka digunakan analisis dengan rumus korelasi Produc Moment untuk mencari hubungan variabel X dan variabel Y.

7.2 Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Dalam penentuan lapangan/lokasi penelitian ialah dengan jalan mempertimbangkan teori substantif yaitu pergilah dan jajakilah lapangan untuk melihat apakah terdapat kesesuaian dengan kenyataan yang berda di lapangan (Leoxy J Moleong, 2000 : 86).
Berdasarkan penjelasan tersebut, maka yang dipilih sebagai lokasi penelitian adalah di SD Negeri 40 Kota Bima dengan keadaan siswa sebagai berikut:

TABEL I : KEADAAN SISWA SD NEGERI 40 KOTA BIMA
TAHUN PELAJARAN 2008/2009

No. Kelas Bagian Keadaan Siswa Jumlah
L P
1. Kelas I 21 17 38
2. Kelas II 20 20 40
3. Kelas III 18 20 38
4. Kelas IV 20 20 40
5. Kelas V 20 20 40
6. Kelas VI 20 20 40
Jumlah 236
Sumber Data : SD Negeri 40 Kota Bima


7.3 Metode Penentuan Subjek Penelitian.
Populasi adalah sekumpulan objek yang menjadi pusat penelitian, yang dari padanya terkandung informasi yang ingin diketahui(W. Gulo, 2002:78). Pendapat lain mengatakan populasi dapat diartikan sebagai wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karateristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2006 : 117).
Penelitian ini tidak menggunakan sampel penelitian karena berdasarkan pendapat Suharsimi Arikunto mengatakan bahwa “Apabila subyeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi” (2006 : 134).
Sehubungan dengan pendapat di atas maka yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh jumlah siswa kelas V SD Negeri 67 Kota Bima yang berjumlah 40 orang.

7.4 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data ialah cara-cara yang digunakan untuk mengumpulkan data (Sugiyono, 2006 : 193). Jadi cara-cara yang digunakan dalam pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu:
7.4.1 Obervasi
Observasi adalah tekhnik pengumpulan data yang dilakukan melaui pengamatan yang disertai pencatatan suatu keadaan terhadap objek sasaran (Abdurrahman Fathoni, 2006 : 104).
Sutrisno Hadi (1986) mengemukakan bahwa, observasi merupakan suatu proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari pelbagai proses biologis dan psikologis/ pengamatan dan ingatan (Sugiyono, 2006 : 203).
Dari pendapat para pakar diatas dapat disimpulkan bahwa observasi adalah tekhnik pengumpulan data yang dilakukan melalui pengamatan dan ingatan serta disertai dengan pencatatan-pencatatan.
7.4.2 Wawancara
Interviuw yang juga disebut dengan wawancara atau kuesioner lisan adalah sebuah dialog yang dilakukan oleh pewawancara untuk memperoleh informasi dari terwawancara (interviuwer) (Suharsimi Arikunto, 1993 : 126
Menurut kartini kartono, bahwa interviuw atau wawancara itu adalah suatu percakapan, tanya jawab secara lisan antara dua orang atau lebih yang duduk berhadapan secara fisik dan diarahkan pada suatu masalah-masalah tertentu. (Ahmad Usman, 2006 : 114).

Wawancara adalah tekhnik pengumpulan data melalui proses tanya jawab secara lisan yang berlangsung searah, artinya pertanyaan datang dari pihak yang melakukan wawancara dan jawaban datang dari pihak yang diwawancarai (Abdurrahman Fathoni, 2006 : 105).

Dari pendapat para pakar diatas dapat disimpulkan bahwa wawancara adalah tekhnik pengumpulan data melalui proses tanya jawab dengan nara sumber dengan menggunakan pedoman wawancara secara lengkap maupun tidak disertai dengan pedoman yang telah disusun secara sistematis.
7.4.3 Studi Dokumentasi
Studi Dokumentasi adalah tekhnik pengumpulan data yang dilakukan dengan mempelajari catatan-catatan, literatur-literatur yang relevansi dengan tujuan penelitian (Abdurrahman Fathoni, 2006 : 112).
Dokumentasi, yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan-catatan, transkrip, buku-buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, leger, agenda dan sebagainya (Suharsimi Arikunto, 2006 : 231).
Dari pendapat para pakar diatas dapat disimpulkan bahwa studi dokumentasi adalah tekhnik pengumpulan data yang dilakukan dengan mempelajari catatan-catatan atau buku-buku yang relevansi dengan tujuan peneliti.
7.4.4 Angket
Angket adalah suatu daftar yang berisikan rangkaian pertanyaan mengenai sesuatu masalah atau bidang yang akan diteliti Cholid Narbuko dan Abu Ahmadi, 2005 : 76). Ahli lain mengatakan bahwa angket adalah tehnik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis, kepada responden untuk dijawabnya (Sugiyono, 2006 : 199).
Berangkat dai mendapat di atas metode angket adalah suatu metode yang diberikan kepada responden untuk dijawab berupa pertanyan atau penyataan yang disusun sedemikian rupa oleh peneliti.
Metode ini digunakan untuk mengetahui data tentang Pengaruh kebiasaan belajar siswa terhadap prestasi belajar dalam mata pelajaran PKn siswa kelas V SD Negeri 67 Kota Bima tahun pelajaran 2008/2009.
Angket disusun sebanyak 10 item pertanyaan terdiri dari 3 opsion jawaban yaitu a, b dan c dengan skor :
A. Opsion A diberi skor 3
B. Opsion B diberi skor 2
C. Opsion C diberi skor 1

7.4 Jenis dan Sumber Data
7.5.1. Jenis Data
Sebagai mana diketahui bahwa jenis data itu hanya dikelompokan menjadi dua kategori, yakni data kualitatif dan data kuantitatif.
1. Data kualitatif
Data kualitatif adalah data yang tidak berbentuk angka.
2. Data kuantitatif
Data kuantitatif adalah data yang berbentuk angka atau data kualitatif yang diangkatkan. (Ahmad Usman, 2006 : 104).

Berdasarkan pendapat di atas maka yang menjadi jenis data dalam penelitian ini data kuantitatif dalam penelitian ini adalah mengenai perhitungan angka-angka atau skor berupa hasil angket dan dokumen. Data kuantitatif dapat dibagi menjadi beberapa skala yaitu :
a. Skala nomimal yaitu skala yang diberikan pada obyek atau kategori yang sifatnya hanya sekedar label atau kode saja.
b. Skala Ordinal yaitu skala yang diberikan pada obyek atau kategori yang sifatnya menyatakan tingkat dengan jarak atau rentang yang tidak harus sama.
c. Skala Interval yaitu skala yang diberikan pada obyek atau kategori yang sifatnya juga menyatakan tingkat dengan jarak atau rentang yang harus sama, namnun tidak terdapat titik nol absolut
d. Skala Rasio yaitu skala yang diberikan pada obyek atau kategori yang sifatnya menghimpun semua sifat dari ketiga skala lainnya dan dilengkapi titik nol absolut dengan makna empiris (M. Iqbal Hasan, 2002 : 70).

Berdasarkan pendapat di atas maka skala yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah skala interval.

7.5.2. Sumber Data
7.5.2.1. Data Primer
Demikian pula halnya dengan jenis data, maka sumber data dapat diklasifikasikan dua bagian, yaitu sumber datar primer dan sumber data sekunder.
1. Data primer
Data primer adalah sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data atau data yang dikumpulkan sendiri oleh perseorangan atau suatu organisasi langsunng melalui obyeknya
2. Data sekunder
Data sekunder adalah merupakan sumber yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data, misalnya lewat orang lain atau lewat dokumen (Sugiyono, 2006 : 308-309).

Jadi sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sumber data primer yang diperoleh melalui siswa berupa hasil angket selama penelitian berlangsung. Data sekunder adalah sumber data yang diperoleh lewat buku raport berupa angka atau nilai hasil ulangan semester.

7.6. Identifikasi dan Definisi Operasional Variabel
7.6.1. Identifikasi Variabel Penelitian
Dari judul penelitian diatas oleh peneliti memiliki 2 (dua) variabel yatu penggunaan metode diskusi sebagai variabel bebasnya dan prestasi beloajar adalah variabel terikatnya (Suharsimi Arikunto, 2006 : 104).
7.6.1.1 Variabel bebas adalah variabel yang memberikan pengaruh terhadap variabel terpengaruh (terikat) (Choli Narbuku dan Abu ahmad, 2005 : 119). Jadi variabel bebas dalam penelitian ini adalah apersepsi.
7.6.1.2 Variabel terikat
Variabel terikat adalah kondisi atau karakteristik yang berubah atau yang mencul ketika penelitian mengiat troduksi, mengubah atau pengganti variabel bebas, menurut fungsinya variabel ini dipengaruhi oleh variabel lain, karena sering disebut variabel yang dipengaruhi atau variabel terpengaruhi (Suharsimi arikunto, 2006: 106). Jadi variabel terkat dalam penelitian ini adalah hasil belajar siswa.

7.6.2. Definisi Operasional Variabel
7.6.2.1 Kebiasaan belajar adalah suatu perilaku yang ditunjukan oleh siswa yang dilakukan secara berulang-ulang dari waktu kewaktu secara otomatis.
7.6.2.2 Hasil belajar adalah sesuatu yang diperoleh siswa setelah melakukan kegiatan pembelajaran.
7.7 Metode Ananlisis Data
Untuk dapat menarik kesimpulan dari data yang diperoleh, maka teknik analisis data yang diterapkan dalam penelitian ini adalah metode statistika dengan rumus teknik korelasi produk moment sebagai berikut :

N∑XY – (∑X ) (∑Y )
rxy =
{(N∑ X² - (∑X )²} { N∑ Y² – ((∑X )²}


Keterangan :
r = koefisien korelasi
xy = jumlah skor x dan y
Σx = jumlah skor dalam Variabel x
Σy = jumlah skor dalam Variabel y
Σxy = jumlah hasil kali skor x dengan skor yyang berpasangan
Σx = jumlah skor yang dikuadratkan dalam variabel x
Σy = jumlah skor yang dikuadratkan dalam variabel y
N = banyak subyek skor x dan y yang berpasangan
Pengujian hipotesis menggunakan taraf signifikasi 5% tabel nilai “Product Moment” dengan kriteria sebagai bentuk :
Bila r hitung .> r tabel maka ha diterima
Bila r hitung .< r tabel maka ho ditolak. (Suharsimi Arikunto, 1991 : 256).



DAFTAR PUSTAKA

Arikunto suharsimi, 2006, Prosedur Penelitian Ssuatu Pendekatan Praktik, Jakarta Renika Cipta, Jakarta.

Ahmad Usman, 2006, Metodelogi Penelitian ( Aplikasi Dalam Bidang Pendidikan), Bima.

Abu Ahmadi, H, Widodo Supriyono, 1982, Psikologi Belajar, Ribneka Cipta, Jakarta.
B. Miles Matthew dkk, 1992. Analisis Data Kualitatif. Universitas Indonesia. Jakarta.
Choli Narbuko, Abu Ahmadi, 2005, Metodelogi Penelitian, Bumi Aksara, Jakarta.
Dimyati dan Mudjiono. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Hasbullah, 2005, Diktat Pengantar Pendidikan, Bima.
I.W. Nurkencana, 1986, Evaluasi Pendidikan,Surabaya.
Kaelan dkk, 2007. Pendidikan Kewarganegaraan Untuk Perguruan Tinggi. Paradigma. Yogyakarta.
Kholifah. 2003. Pengaruh Cara dan Kebiasaan Belajar Terhadap prestasi Belajar Akuntansi Siswa Madrasah Aliyah Al- Azhar Pasuruan. Skripsi tidak diterbitkan. Malang: FE Universitas Negeri Malang.
Muhibbin Syah, 1999, Psikologi Belajar. Jakarta.
Martimis Yamin, 2007, Profesi Guru dan Implementasi KTSP, Tim Gaung Persada Press, Jakarta.
Muhyono. 2001. Hubungan Minat dan Cara Belajar Fisika dengan Prestasi Belajar Fisika Siswa kelas 1 cawu 2 SMU Negeri 6 Malang Tapel 2000/2001. Skripsi tidak diterbitkan. Malang: FMIPA Universitas Negeri Malang.
N.Y. Roestiyah, 1986, Masalah-Masalah Ilmu Keguruan, Bima Aksara. Jakarta.
Nasution, 2000, Azas-Azas Mengajar, Bumi Aksara, Jakarta.
Noeng Muhadjir, 1991, Penelitian Dalam Pendidikan, Proyek Pengembangan Pendidikan Guru, Jakarta

Sugiyono, 2006, Metodelogi Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R & D ) Alfabeta, Bandung.
Suryabrata, Sumadi. 2002. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT. Grafindo Perkasa Rajawali.
Sardiman, 1996, Iteraksi dan Motivasi Belajar Mengajar, Rajawali Pers, Jakarta.
Slameto, 2003, Balajar dan Faktor-Fkator Yang, Mempengaruhinya, Rineka Cipta, Jakarta.

T. Raka Joni, 1981, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Guru, Jakarta.
Thabrany, H. 1994. Rahasia Kunci Sukses Belajar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Usman Ahmad, 2006. Metodelogi Penelitian (Aplikasi Dalam Bidang Pendidikan dan Sosial). Staim Bima.
W. Gulo, 2002, Metodelogi Penelitian, Grasindo, Jakarta.
, 2003. Undang-Undang RI no. 20. Tahun 2003.( Undang-Undang Sisdiknas). Sinar Grafika. Jakarta.
, 2006. Undang-Undang Guru dan Dosen (UU RI No. 14 Tahun 2005). Fokus Media. Jakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar